Potensi Aliansi Ford dan Xiaomi: Siasat EV di Tengah Tensi Geopolitik

Senin, 02 Februari 2026 | 08:13:08 WIB
Potensi Aliansi Ford dan Xiaomi: Siasat EV di Tengah Tensi Geopolitik

JAKARTA - Dinamika industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) global kembali memanas seiring munculnya kabar mengenai manuver strategis dua raksasa lintas benua. Ford Motor Co., produsen otomotif legendaris asal Amerika Serikat, dilaporkan tengah menjajaki komunikasi dengan raksasa teknologi asal China, Xiaomi Corp. Isu yang berhembus menyebutkan bahwa kedua perusahaan ini sedang mendiskusikan peluang pembentukan usaha patungan (joint venture) untuk memproduksi mobil listrik di tanah Paman Sam.

Laporan yang dirilis oleh Financial Times ini memicu spekulasi besar mengenai masa depan pasar EV di Amerika Serikat. Meskipun kabar ini menarik perhatian dunia, proses pembicaraan tersebut dikabarkan masih berada dalam tahap yang sangat awal. Menariknya, Ford ternyata tidak hanya melirik Xiaomi. Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa Ford juga sempat menjajaki potensi kolaborasi dengan pemain besar China lainnya, termasuk BYD Co.

Bantahan Resmi dan Tabir Misteri Kemitraan

Meski laporan tersebut telah tersebar luas, baik Ford maupun Xiaomi secara resmi membantah adanya pembicaraan tersebut saat dikonfirmasi oleh Financial Times. Di sisi lain, BYD memilih untuk tidak memberikan komentar terkait isu kolaborasi ini. Bantahan semacam ini merupakan hal yang lumrah dalam negosiasi bisnis tingkat tinggi, terutama ketika melibatkan sektor sensitif yang berkaitan dengan teknologi dan regulasi antarnegara.

Kehadiran Xiaomi dalam radar Ford menunjukkan betapa perusahaan teknologi kini memiliki daya tawar yang kuat dalam ekosistem kendaraan masa depan. Xiaomi, yang sukses mendobrak pasar melalui mobil listrik YU7, dipandang sebagai mitra potensial yang mampu memberikan suntikan inovasi digital pada efisiensi manufaktur otomotif tradisional milik Ford.

Hambatan Geopolitik dan Dilema Pasar Amerika

Kabar mengenai kemitraan ini mencuat di momen yang cukup krusial. Saat ini, hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China tengah berada dalam tensi yang meningkat. Rivalitas kedua negara tidak lagi hanya soal ekspor-impor biasa, melainkan merambah ke sektor-sektor strategis seperti manufaktur canggih dan industri pelayaran.

Bagi produsen EV asal China, melakukan diversifikasi ke luar negeri adalah sebuah keharusan. Persaingan domestik di China sudah mencapai titik jenuh akibat kompetisi yang sangat ketat dan terjadinya kelebihan kapasitas produksi. Namun, menembus pasar Amerika Serikat bukanlah perkara mudah. Selain persaingan bisnis, hambatan geopolitik yang besar menjadi tembok tinggi yang sulit ditembus.

Hingga saat ini, sebagian besar produsen EV China cenderung menghindari pasar AS karena dihantui oleh kebijakan tarif yang tinggi serta sentimen politik yang tidak menentu. Kendati demikian, mereka tidak kehilangan taring di belahan dunia lain. Di Eropa, misalnya, produsen China mencatatkan prestasi gemilang dengan pangsa pasar tertinggi pada Desember lalu. Tercatat hampir satu dari sepuluh mobil penumpang yang terjual di benua biru tersebut merupakan hasil produksi perusahaan China.

Kontras Kebijakan: Langkah Kanada dan Ancaman Trump

Di tengah ketegangan AS-China, Kanada justru mengambil langkah yang cukup berani. Pada bulan lalu, Ottawa mencapai kesepakatan dengan Beijing untuk menurunkan sejumlah hambatan dagang guna memperbaiki hubungan bilateral. Kesepakatan ini mencakup izin masuk bagi 49.000 unit kendaraan listrik China dengan tarif hanya sebesar 6%.

Langkah ini merupakan perubahan drastis, mengingat Kanada sebelumnya sempat mengenakan bea tambahan hingga 100% pada tahun 2024 demi menyelaraskan kebijakan dengan Amerika Serikat. Penghapusan bea tambahan tersebut memberikan angin segar bagi produsen China untuk mulai membanjiri pasar Amerika Utara melalui pintu Kanada.

Namun, kebijakan "pintu terbuka" Kanada ini tidak berjalan mulus tanpa tekanan. Presiden Donald Trump secara terang-terangan memberikan ancaman balasan. Trump memperingatkan bahwa ia akan mengenakan tarif 100% atas seluruh ekspor Kanada ke Amerika Serikat jika pemerintah Ottawa tetap bersikeras melanjutkan kesepakatan dagang tersebut dengan China. Ancaman ini menegaskan bahwa sektor EV telah menjadi pion utama dalam catur politik internasional.

Masa Depan Manufaktur Lintas Batas

Munculnya nama Xiaomi sebagai calon mitra Ford menunjukkan pergeseran paradigma dalam industri otomotif. Kendaraan listrik bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan perangkat teknologi bergerak. Ford, yang memiliki infrastruktur manufaktur kuat di Amerika, mungkin melihat Xiaomi sebagai kunci untuk memenangkan pasar EV melalui integrasi perangkat lunak dan efisiensi baterai yang menjadi keunggulan perusahaan China.

Meski masih dibayangi ketidakpastian regulasi dan ancaman tarif, kemungkinan adanya usaha patungan ini menjadi bukti bahwa kebutuhan akan kolaborasi teknologi seringkali melampaui batasan politik. Jika benar terjadi, kerja sama Ford dan Xiaomi bisa menjadi preseden baru bagaimana perusahaan global menavigasi konflik dagang demi kemajuan industri hijau.

Saat ini, mata industri otomotif dunia tertuju pada bagaimana Ford akan melangkah selanjutnya. Apakah mereka akan benar-benar menggandeng kekuatan teknologi China untuk memperkuat dominasi di pasar domestik, atau justru mundur perlahan demi menghindari badai politik yang ditiupkan dari Washington? Jawabannya akan sangat bergantung pada seberapa besar keberanian para eksekutif otomotif dalam menghadapi realita geopolitik yang semakin kompleks.

Terkini