Strategi DAAZ Bara Lestari Perkuat Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 10:12:25 WIB
Strategi DAAZ Bara Lestari Perkuat Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Nasional

JAKARTA - Langkah strategis diambil oleh PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dalam upaya memperkokoh posisinya di industri energi baru terbarukan. Melalui anak usahanya, Daaz Nexus Energy Limited, perseroan secara resmi menyatakan keterlibatannya dalam konsorsium besar yang berfokus pada hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Inisiatif ini menandai babak baru bagi DAAZ untuk berkolaborasi dengan raksasa industri pertambangan nasional serta pemain global di bidang teknologi energi.

Keterlibatan DAAZ dalam proyek prestisius ini dikukuhkan melalui penandatanganan Framework Agreement yang dilakukan pada 30 Januari 2026. Kesepakatan ini melibatkan entitas-entitas besar, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Industri Baterai Indonesia (IBI), serta HYD Investment Limited. Langkah ini dipandang sebagai upaya kolektif untuk mempercepat terciptanya rantai pasok baterai EV yang terintegrasi di tanah air.

Kolaborasi Strategis dengan Pemain Global dan Nasional

Bergabungnya DAAZ ke dalam konsorsium ini membawa perseroan berinteraksi langsung dengan HYD Investment Limited. Perlu diketahui, HYD merupakan entitas bentukan konsorsium perusahaan global yang terdiri dari dua raksasa energi baru asal Tiongkok, yakni Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd dan EVE Energy Co Ltd. Kedua perusahaan tersebut dikenal sebagai pemegang peran kunci dalam penyediaan material energi dan produksi sel baterai di tingkat dunia.

Dengan menggandeng Antam dan IBI, DAAZ memposisikan diri di pusat pengembangan hilirisasi yang menjadi program prioritas nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan sinergi antara ketersediaan bahan baku nikel yang melimpah di Indonesia dengan teknologi canggih yang dibawa oleh mitra global seperti Huayou dan EVE Energy.

Status Kesepakatan dan Tahapan Kerja Sama ke Depan

Meskipun langkah ini menjadi sentimen positif bagi pasar, manajemen PT Daaz Bara Lestari Tbk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai status hukum dari kesepakatan tersebut. Manajemen menegaskan bahwa keterlibatan perseroan saat ini masih berada dalam fase awal. Framework Agreement yang telah ditandatangani berfungsi sebagai kerangka dasar yang memayungi visi kerja sama, namun belum bersifat final.

"Pelaksanaan kerja sama selanjutnya masih bergantung pada pemenuhan ketentuan prasyarat pendahuluan, serta perundingan dan penandatanganan perjanjian-perjanjian definitif," tulis manajemen DAAZ dalam keterbukaan informasi yang dirilis pada Jumat. Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap langkah investasi dan pengembangan bisnisnya.

Optimisme di Tengah Pertumbuhan Kinerja Perseroan

Kabar bergabungnya DAAZ ke dalam konsorsium hilirisasi ini muncul di saat performa finansial perseroan tengah menunjukkan tren yang sangat positif. Pada tahun sebelumnya, DAAZ mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 70 persen, yang didorong oleh performa moncer di lini penjualan nikel dan solar. Kinerja yang solid ini menjadi modal kuat bagi perseroan untuk melangkah lebih jauh ke industri hilirisasi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Partisipasi DAAZ dalam ekosistem EV ini juga menunjukkan visi jangka panjang manajemen untuk mendiversifikasi jangkauan bisnis dari sekadar perdagangan dan logistik tambang menuju keterlibatan aktif dalam industri teknologi energi hijau. Hal ini selaras dengan tren transisi energi global yang menuntut kesiapan infrastruktur baterai yang andal.

Proyeksi Dampak pada Industri Hilirisasi Indonesia

Bergabungnya pemain lokal seperti DAAZ bersama konsorsium Huayou-EVE dan BUMN seperti Antam diharapkan mampu mempercepat realisasi Indonesia sebagai pusat produksi baterai kendaraan listrik dunia. Hilirisasi nikel menjadi kunci utama, mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar yang merupakan bahan baku krusial bagi baterai jenis NCM (Nickel Cobalt Manganese).

DAAZ, melalui Daaz Nexus Energy Limited, diharapkan dapat mengambil peran strategis dalam rantai pasok tersebut. Dengan dukungan modal dan rekam jejak yang baik, keterlibatan mereka diharapkan memperkuat daya saing konsorsium di tengah persaingan global yang ketat. Meskipun perjanjian ini belum menciptakan kewajiban investasi yang mengikat secara final, langkah ini menjadi bukti komitmen DAAZ dalam mendukung peta jalan industri kendaraan listrik nasional.

Pihak manajemen terus mencermati perkembangan dinamika pasar dan regulasi guna memastikan bahwa setiap langkah definitif yang akan diambil nantinya memberikan dampak maksimal bagi nilai pemegang saham serta perkembangan industri energi di Indonesia. Fokus pada keberlanjutan dan hilirisasi nikel diprediksi akan tetap menjadi mesin penggerak utama bagi pertumbuhan DAAZ di tahun-tahun mendatang.

Terkini