Urgensi Jalur Ganda Kereta Sumbagsel: Solusi Logistik dan Kemacetan Lampung

Senin, 02 Februari 2026 | 11:28:58 WIB
Urgensi Jalur Ganda Kereta Sumbagsel: Solusi Logistik dan Kemacetan Lampung

JAKARTA - Infrastruktur transportasi di wilayah Sumatera Bagian Selatan kini berada di titik krusial yang menuntut pembenahan fundamental. Pemerintah Provinsi Lampung secara resmi telah mengusulkan langkah strategis berupa pembangunan jalur kereta api ganda (double track) sebagai jawaban atas kompleksitas mobilitas di wilayah tersebut. Usulan ini bukan sekadar penambahan kapasitas, melainkan upaya mendesak untuk memisahkan beban angkutan logistik berat yang selama ini berbagi lintasan dengan transportasi penumpang, sebuah kondisi yang kian membebani efisiensi pergerakan masyarakat dan barang.

Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), M. Abi Berkah Nadi, memberikan pandangan akademis mengenai urgensi proyek ini. Menurutnya, wacana pembangunan double track sejatinya sudah lama bergulir, bahkan sebelum pandemi Covid-19 menghantam dunia. Namun, melihat dinamika ekonomi saat ini, realisasi proyek tersebut menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda demi keberlangsungan konektivitas di pintu gerbang Sumatera.

Urgensi Pemisahan Jalur Logistik di Koridor Utama

Posisi geografis Lampung yang unik menjadikannya sebagai jalur nadi utama bagi distribusi energi nasional. Namun, hal ini membawa konsekuensi beban operasional yang sangat berat pada infrastruktur yang ada. Urgensi proyek ini sangat tinggi mengingat posisi strategis Lampung sebagai jalur utama angkutan batu bara dari Sumatera Selatan. Jalur ini merupakan koneksi vital bagi komoditas energi yang bergerak dari arah Palembang hingga Muara Enim menuju pelabuhan di Lampung.

Dalam operasional harian, tantangan terbesar muncul dari frekuensi tinggi perjalanan kereta api barang. “Lampung ini menjadi jalur koneksi, terutama untuk kereta api barang batu bara dari wilayah Palembang–Muara Enim menuju Lampung. Dan yang paling banyak melintas selama ini adalah rangkaian Babaranjang,” ujar Abi saat dikonfirmasi, Minggu. Dominasi kereta Babaranjang, yang setiap rangkaiannya bisa mencapai sekitar 60 gerbong, telah lama menjadi penyebab utama tersendatnya arus lalu lintas di berbagai perlintasan sebidang, terutama di pusat jantung Kota Bandar Lampung.

Mengatasi Kemacetan dan Meningkatkan Efisiensi Waktu

Selama ini, sistem jalur tunggal (single track) memaksa adanya prioritas yang sering kali merugikan mobilitas publik. Isu mengenai pengalihan jalur kereta api barang, khususnya Babaranjang, ke Lintas Timur sempat mencuat sebagai solusi untuk mengurai kemacetan kronis di Bandar Lampung. Abi menegaskan bahwa idealnya memang harus ada pemisahan jalur fisik agar kereta logistik tidak lagi mengganggu alur transportasi perkotaan.

Dampak dari sistem jalur tunggal ini tidak hanya dirasakan oleh pengguna jalan raya, tetapi juga oleh penumpang kereta api itu sendiri. Selama ini, kereta penumpang sering kali harus mengalah dan menunggu rangkaian logistik melintas, sehingga memengaruhi efisiensi waktu mobilisasi masyarakat. Ketimpangan prioritas ini menjadi penghambat bagi masyarakat yang membutuhkan kepastian jadwal. “Kalau kereta penumpang dan Babaranjang melintas bersamaan, yang mengalah itu biasanya kereta penumpang. Dengan double track, waktu tempuh bisa jauh lebih singkat,” jelas Abi.

Potensi Ekonomi Baru Melalui Transit Oriented Development

Lebih jauh dari sekadar urusan kelancaran lalu lintas, pembangunan jalur ganda di koridor Lampung–Palembang dipandang memiliki efek pengganda (multiplier effect) bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Implementasi infrastruktur ganda ini dapat menjadi katalisator bagi pengembangan konsep Transit Oriented Development (TOD) di setiap titik pemberhentian.

Ada peluang besar bagi stasiun-stasiun di sepanjang jalur tersebut untuk bermetamorfosis menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. “Dengan adanya konektivitas antarstasiun dan antarwilayah, pengembangan ekonomi pasti akan meningkat,” kata Abi. Melalui integrasi yang lebih baik, setiap wilayah yang dilalui rel kereta api dapat mengoptimalkan potensi lokal mereka secara maksimal. Harapannya, setiap titik stasiun bisa berkembang sesuai potensi daerah masing-masing, entah itu di sektor pariwisata yang menarik minat pelancong atau di sektor industri yang membutuhkan kecepatan logistik.

Strategi Pendanaan dan Masa Depan Proyek

Menyadari bahwa pembangunan jalur ganda sepanjang ratusan kilometer memerlukan investasi yang sangat masif, pendekatan finansial yang kreatif menjadi sangat diperlukan. Terkait kebutuhan anggaran yang besar, Abi menyarankan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Diperlukan eksplorasi model pembiayaan lain, seperti kemitraan pemerintah dengan badan usaha atau investasi swasta, agar proyek strategis ini tidak terhambat oleh keterbatasan kas negara.

Secara keseluruhan, realisasi jalur ganda kereta api di Sumbagsel akan menjadi tonggak sejarah baru dalam manajemen transportasi di Sumatera. Dengan terpisahnya jalur angkutan berat dari transportasi penumpang, Lampung dan Sumatera Selatan tidak hanya akan terbebas dari jerat kemacetan di perlintasan kereta, tetapi juga akan memiliki fondasi logistik yang lebih kuat dan andal guna mendukung target pembangunan ekonomi nasional di masa depan.

Terkini