JAKARTA - Banyak orang pernah lupa tujuan masuk ruangan atau kehilangan alur cerita saat berbicara.
Kondisi ini sering memicu kekhawatiran, meski tidak selalu berkaitan dengan gangguan serius pada otak. Dalam banyak kasus, hal tersebut masih termasuk respons normal terhadap tekanan psikologis sehari-hari.
Fenomena otak yang tiba-tiba terasa kosong kerap dipengaruhi kondisi mental tertentu. Psikolog klinis Sarah Garcia Beaumier menjelaskan bahwa stres, kecemasan, multitasking, hingga depresi lebih sering menjadi pemicunya dibanding gangguan saraf. Faktor-faktor ini membuat otak bekerja berlebihan sehingga fokus dan daya ingat sementara menurun.
Penurunan kognitif sejati biasanya menunjukkan pola yang lebih konsisten. Kemampuan memori, perhatian, dan bahasa memburuk secara perlahan dan makin sering disadari lingkungan sekitar. Contohnya seperti lupa menghubungi orang penting atau kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara.
"Melupakan percakapan atau janji penting, merasa tersesat di tempat-tempat yang familiar, lebih mengkhawatirkan dan menunjukkan adanya gangguan kognitif dini yang signifikan," jelas dokter saraf Thomas Hammond.
Tanda-tanda ini umumnya tidak muncul sesekali, melainkan terus berulang. Karena itu, penting membedakan antara kelupaan biasa dan gejala penurunan fungsi otak.
Meski terdengar mengkhawatirkan, gangguan kognitif tidak selalu berkembang menjadi demensia. Beberapa orang justru bisa stabil atau membaik ketika faktor psikologis dan kondisi kesehatan lain ditangani sejak awal. Kesadaran terhadap tanda-tanda awal menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan otak.
Sulit Mengatur dan Menyelesaikan Tugas
Kesulitan menyusun rencana atau menyelesaikan pekerjaan sederhana sering dianggap sebagai kelelahan biasa. Padahal, stres dan kecemasan dapat mengganggu sistem otak yang mengatur perhatian dan pengambilan keputusan. Saat tekanan berlangsung lama, kemampuan berpikir pun menurun secara bertahap.
Area otak yang mengelola emosi memiliki hubungan erat dengan fungsi perencanaan. Ketika stres berkepanjangan, otak memprioritaskan respons bertahan hidup dibanding berpikir kompleks. Akibatnya, tugas yang sebelumnya mudah terasa lebih berat dan membingungkan.
Kondisi ini kerap membuat seseorang merasa kurang produktif. Jika terjadi terus-menerus, kemampuan menyelesaikan tugas harian bisa terganggu. Karena itu, pengelolaan stres menjadi faktor penting untuk menjaga fungsi kognitif.
Sering Kesulitan Menemukan Kata
Kesulitan menyebutkan kata sederhana lalu menggantinya dengan penjelasan panjang dapat menjadi tanda awal gangguan bahasa. Kondisi ini sering muncul perlahan dan makin terasa dalam percakapan sehari-hari. Seiring waktu, rasa canggung dan kecemasan sosial pun bisa meningkat.
Gangguan ini berkaitan dengan menurunnya produksi BDNF. Protein tersebut berperan penting dalam pembentukan dan pemeliharaan sel otak baru. Ketika produksinya menurun, kemampuan bahasa dan memori ikut terdampak.
Beberapa asupan makanan diketahui mendukung kesehatan otak. Blueberry, kunyit, teh hijau, dan cokelat hitam kerap dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik. Pola makan sehat dapat membantu menjaga kemampuan berpikir tetap optimal.
Kehilangan Minat pada Hal yang Dulu Disukai
Hilangnya ketertarikan pada aktivitas favorit sering disalahartikan sebagai kelelahan atau burnout. Padahal, kondisi ini bisa menjadi salah satu gejala penurunan kognitif. Menarik diri dari hobi seperti membaca atau berkebun patut mendapat perhatian.
Kurangnya aktivitas yang merangsang pikiran dapat mempercepat penurunan fungsi otak. Stimulasi mental berperan penting dalam menjaga koneksi antarsel otak. Ketika rangsangan berkurang, kemampuan kognitif pun ikut melemah.
Para ahli menganjurkan tetap terlibat dalam aktivitas menyenangkan. Musik, olahraga ringan, dan interaksi sosial membantu menjaga kesehatan mental. Aktivitas ini juga mendukung fungsi otak dalam jangka panjang.
Perubahan Kepribadian
Perubahan sikap sering terjadi secara perlahan dan tidak disadari oleh individu. Orang terdekat justru lebih cepat melihat perbedaan seperti mudah marah atau menarik diri. Perubahan ini kerap dianggap sebagai dampak stres biasa.
Gangguan pada area otak yang mengatur emosi dan interaksi sosial dapat memicu perubahan kepribadian. Respons emosional menjadi kurang stabil dan cara berinteraksi pun berubah. Hal ini dapat memengaruhi hubungan sosial sehari-hari.
Jika perubahan berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut perlu diwaspadai. Meski tidak selalu berujung pada gangguan berat, tanda ini patut diperhatikan. Kesadaran dini membantu mencegah dampak yang lebih serius.
Terus-Menerus Khawatir dan Overthinking
Kebiasaan mengkhawatirkan banyak hal membuat otak berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Situasi ini menguras energi mental dan menurunkan konsentrasi. Daya ingat pun ikut melemah akibat kelelahan otak.
Dalam jangka panjang, pola pikir negatif yang tidak terkelola dapat memicu peradangan ringan di otak. Kondisi ini berdampak pada fungsi kognitif secara keseluruhan. Overthinking yang berlarut-larut tidak bisa dianggap sepele.
Jika dibiarkan, gangguan ini berpotensi memperburuk fungsi kognitif. Risiko gangguan daya ingat pun meningkat seiring waktu. Mengelola kecemasan menjadi langkah penting menjaga kesehatan otak.