Sastra Wayang: Tafsir Dinamis Kekuasaan hingga Kesetaraan Gender Kini

Selasa, 03 Februari 2026 | 10:07:58 WIB
Sastra Wayang: Tafsir Dinamis Kekuasaan hingga Kesetaraan Gender Kini

JAKARTA - Dunia pewayangan sering kali disalahpahami sebagai artefak masa lalu yang membeku dalam panggung pertunjukan semalam suntuk. Padahal, di balik kelir dan bayang-bayangnya, wayang menyimpan kode-kode kehidupan yang tetap relevan untuk membedah karut-marut realitas modern. Dari intrik politik di gedung parlemen hingga perjuangan kesetaraan gender di ruang publik, lakon pewayangan mampu menjadi cermin tajam yang memantulkan kembali wajah masyarakat saat ini. Melalui pendekatan literasi dan kajian mendalam, tradisi ini kini didorong untuk keluar dari sekat-sekat nostalgia menuju ruang diskusi intelektual yang lebih inklusif.

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menggelar Pidato Kesusastraan HISKI 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran buku Sastra Wayang, di Auditorium Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo. Acara ini sejatinya menghadirkan Ketua Dewan Pakar Senawangi, Dr. Sri Teddy Rusdy, S.H., M.Hum., sebagai pembicara utama. Melalui forum ini, ditegaskan bahwa wayang adalah entitas yang terus bergerak mengikuti denyut zaman.

Wayang Sebagai Medium Refleksi dan Falsafah Lintas Zaman

Ketum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., membacakan naskah yang berjudul "Wayang sebagai Cermin Kehidupan dan Falsafah Hidup Lintas Zaman". Dalam penyampaiannya, Prof. Novi menekankan bahwa wayang bukan sekadar tontonan tradisional, melainkan medium refleksi filosofis yang merekam kompleksitas kehidupan manusia. Wayang, menurutnya, mengandung nilai-nilai universal tentang keberanian menghadapi tantangan, pengorbanan demi kebenaran, cinta yang melampaui batas sosial, serta pencarian makna hidup yang tidak pernah usai.

Ia menjelaskan bahwa kekuatan wayang tidak berhenti pada pertunjukan panggung, tetapi juga hidup dalam sastra wayang. Melalui teks, dialog, dan narasi, nilai-nilai wayang dapat dibaca ulang dan ditafsirkan sesuai konteks zaman. Sastra wayang membuka ruang diskusi yang luas, mulai dari isu politik dan kepemimpinan, relasi kuasa dalam masyarakat, hingga refleksi spiritual yang menuntun manusia mencari keseimbangan hidup. Dengan demikian, wayang berperan sebagai kompas moral bagi manusia dalam menghadapi ketidakpastian dunia modern.

Dinamika Politik dan Patriotisme dalam Teks Terbuka

Peluncuran buku Sastra Wayang disebut sebagai penanda penting bahwa tradisi tidak boleh membeku. Buku tersebut menghadirkan beragam kajian yang menempatkan wayang sebagai teks terbuka dan dinamis. Buku ini menantang pembaca untuk melihat hubungan antara drama di atas panggung dengan realitas sosial. Intrik politik dalam lakon wayang dipahami sebagai cermin dinamika kekuasaan yang juga hadir dalam kehidupan modern.

Sementara itu, kisah-kisah heroik tokoh wayang dibaca sebagai bentuk patriotisme yang menuntut keberanian, kesetiaan, dan pengabdian nyata kepada kepentingan bersama. Hal ini menegaskan bahwa etika kepemimpinan yang ideal dalam wayang sebenarnya adalah standar yang tetap kita cari dalam kehidupan bernegara hari ini. Wayang memberikan gambaran jernih mengenai konsekuensi dari setiap pilihan kekuasaan yang diambil oleh para pemimpinnya.

Redefinisi Posisi Perempuan dan Kesetaraan Gender

Salah satu perhatian utama dalam pidato tersebut adalah pembacaan kritis terhadap posisi perempuan dalam dunia pewayangan. Di masa lalu, narasi pewayangan sering kali terjebak dalam perspektif patriarki yang menempatkan tokoh perempuan di balik bayang-bayang. Namun, kajian terbaru menawarkan sudut pandang yang berbeda. Prof. Novi menekankan bahwa tokoh perempuan dalam wayang tidak selayaknya dipandang sebagai pelengkap cerita.

Sebaliknya, mereka memiliki peran strategis, daya tawar, dan kekuatan simbolik yang relevan dengan diskursus kesetaraan gender saat ini. Perspektif ini membuka ruang dialog antara tradisi sastra dan isu sosial kontemporer. Perempuan dalam pewayangan, seperti Srikandi atau Kunti, memiliki kecerdasan politik dan keteguhan prinsip yang menjadi bukti bahwa isu keadilan gender sebenarnya telah lama terpatri dalam nilai-nilai tradisional kita, meski sering terabaikan oleh tafsir lama.

Transformasi Kultural dan Adaptasi di Era Digital

Pidato Kesusastraan 2026 juga menyoroti kemampuan wayang beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tidak ditinggalkan oleh generasi z dan alfa. Wayang tidak hanya hadir dalam bentuk klasik, tetapi juga bertransformasi ke berbagai medium, seperti seni rupa, motif batik, pertunjukan inovatif, hingga platform digital. Kehadiran wayang dalam animasi, komik, dan media daring dinilai sebagai strategi kultural untuk menjangkau generasi muda tanpa kehilangan nilai filosofis yang menjadi ruh tradisi.

Selain dimensi budaya, aspek sosial dan ekonomi turut menjadi perhatian. Pertunjukan wayang disebut selalu bergerak seiring denyut kehidupan masyarakat. Kondisi ekonomi rakyat memengaruhi intensitas pementasan, jumlah penonton, hingga cara lakon disajikan. Hal ini menegaskan bahwa wayang tidak berdiri di luar realitas, melainkan tumbuh bersama masyarakat yang menopangnya. Wayang adalah seni yang merakyat, yang keberlanjutannya sangat bergantung pada kesejahteraan kolektif para pendukungnya.

Melalui kegiatan ini, wayang ditegaskan sebagai warisan budaya yang terus hidup, berdialog, dan bertransformasi. Pidato Kesusastraan 2026 dan peluncuran buku Sastra Wayang diharapkan memperkuat kesadaran publik bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk memahami manusia, masyarakat, dan kebudayaan dalam konteks masa kini dan masa depan. Tradisi adalah sebuah proses berkesinambungan, dan Sastra Wayang adalah alat untuk memastikan proses tersebut tidak pernah berhenti.

Terkini