JAKARTA - Proyek gentengisasi diperkenalkan sebagai langkah untuk mempercantik lingkungan permukiman di Indonesia.
Ide ini bertujuan mengganti atap rumah bermaterial seng menjadi genteng yang lebih sejuk dan estetis. Seskab Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa atap seng membuat hunian panas, mudah berkarat, dan mengurangi keindahan kawasan permukiman.
Presiden menargetkan dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seluruh hunian di Indonesia lebih banyak menggunakan genteng. Dengan genteng, rumah menjadi lebih indah, sejuk, dan tertata rapi. Upaya ini juga termasuk bagian dari Gerakan Indonesia ASRI, yang fokus menciptakan lingkungan Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
Gentengisasi bukan sekadar mengganti material atap, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kawasan permukiman yang tertata rapi diharapkan menimbulkan kenyamanan bagi warganya. Hal ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik dan modern.
Gerakan Indonesia ASRI dan Proyek Gentengisasi
Proyek gentengisasi merupakan salah satu program unggulan dari Gerakan Indonesia ASRI. Gerakan ini bertujuan menghadirkan lingkungan yang bersih dan tertata di seluruh desa dan kota. Selain gentengisasi, pemerintah juga menyiapkan program sampah jadi energi atau waste-to-energy di 34 titik nasional.
“Tahun ini akan dimulai pembangunan 34 proyek waste-to-energy di 34 kota,” ujar Teddy. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah menangani persoalan sampah secara serius dan terintegrasi. Gerakan Indonesia ASRI dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Proyek gentengisasi menjadi simbol perhatian pemerintah terhadap detail estetika permukiman. Kepala daerah diajak berpartisipasi aktif untuk mempercantik kota, kecamatan, dan desa masing-masing. Program ini juga membuka peluang pengembangan ekonomi lokal melalui produksi genteng.
Atap Seng Jadi Tantangan Keindahan Kota
Presiden menekankan bahwa hampir semua desa dan kota di Indonesia saat ini masih menggunakan seng untuk atap rumah. Seng membuat rumah panas dan cepat berkarat, sehingga mengurangi keindahan kawasan. “Seng ini panas untuk penghuni dan juga berkarat,” tutur Presiden.
Karat di atap rumah dinilai sebagai simbol degenerasi, bukan kemajuan. Dengan mengganti seng dengan genteng, Indonesia dapat tampil lebih indah dan sejuk. Program gentengisasi mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya estetika dan kenyamanan hunian.
Pemerintah menilai harga pabrik genteng relatif terjangkau karena bahan bakunya berasal dari tanah dan campuran limbah lain. Genteng menjadi ringan, kuat, dan ramah lingkungan untuk digunakan sebagai atap rumah. Hal ini memudahkan koperasi desa dan pelaku usaha lokal untuk memproduksi genteng secara mandiri.
Keterlibatan Kepala Daerah dan Koperasi Desa
Presiden mengajak bupati dan wali kota untuk ikut serta dalam proyek gentengisasi. “Yang mau, ayo bersama kita bikin kotamu indah, kecamatanmu indah, desamu indah,” kata Presiden. Kepala daerah memiliki peran penting dalam mengawasi dan mendorong pelaksanaan program di wilayahnya masing-masing.
Koperasi Desa Merah Putih akan dilengkapi dengan pabrik pembuatan genteng untuk mendukung produksi lokal. Program ini membuka peluang kerja dan memberdayakan masyarakat desa. Dengan keterlibatan pemerintah daerah, proyek gentengisasi dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Gentengisasi sekaligus menjadi simbol pembangunan nasional yang berkelanjutan. Kepala daerah yang aktif mendukung program ini turut berkontribusi pada terciptanya lingkungan sehat dan tertata. Inisiatif ini juga membuktikan bahwa estetika hunian dapat selaras dengan pembangunan ekonomi lokal.
Dampak Proyek Gentengisasi bagi Masyarakat
Dengan gentengisasi, hunian menjadi lebih indah dan sejuk, sehingga meningkatkan kenyamanan penghuninya. Masyarakat dapat merasakan lingkungan yang tertata dengan baik dan estetis. Selain itu, kualitas hidup warga meningkat seiring dengan perhatian pemerintah terhadap detail permukiman.
Proyek ini juga mendorong kesadaran kolektif akan kebersihan, keamanan, dan kesehatan lingkungan. Gentengisasi diharapkan mengurangi penggunaan material yang mudah rusak seperti seng. Dengan begitu, permukiman lebih kuat, tahan lama, dan siap menghadapi cuaca ekstrem.
Selain itu, gentengisasi menjadi bagian dari strategi transformasi nasional menuju Indonesia maju dan modern. Presiden menegaskan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat dalam membangun hunian yang nyaman dan indah.
“Karat itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat,” tegas Presiden.
Proyek gentengisasi menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Langkah ini tidak hanya mempercantik permukiman tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga. Dengan gerakan ini, Indonesia diharapkan menjadi negara yang indah, kuat, dan masyarakatnya bahagia.