Syarat Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen demi Pemulihan Pasar Otomotif Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:35:24 WIB
Syarat Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen demi Pemulihan Pasar Otomotif Indonesia

JAKARTA - Industri otomotif nasional tengah berada di persimpangan jalan yang cukup terjal. Setelah melewati tahun 2025 yang penuh tekanan, para pelaku industri kini menaruh harapan besar pada target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah. Pasalnya, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di level moderat sebesar 5 persen tidak lagi cukup kuat untuk mengerek angka penjualan mobil yang terus mengalami stagnasi dalam satu dekade terakhir.

Dalam dialog strategis di Manufacture Check, CNBC Indonesia, terungkap bahwa kesehatan sektor otomotif sangat bergantung pada seberapa agresif pemerintah mampu memacu roda ekonomi. Penurunan daya beli masyarakat serta tingginya suku bunga kredit kendaraan masih menjadi tembok besar yang menghalangi laju konsumsi barang modal seperti mobil.

Evaluasi Kinerja Otomotif 2025: Tren Penurunan yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan data resmi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang tahun 2025, industri ini mencatatkan kontraksi yang cukup signifikan. Penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan sebesar 7,2% secara tahunan dengan total penjualan wholesale mencapai 803.687 unit. Sementara itu, dari sisi retail sales, angka yang tercatat adalah 833.692 unit, atau merosot sekitar 6,3%.

Sekretaris Umum GAIKINDO, Kukuh Kumara, memberikan catatan kritis mengenai fenomena ini. Ia menyebutkan bahwa tren penjualan mobil di Tanah Air sebenarnya telah mengalami pertumbuhan yang cenderung stagnan sejak tahun 2013, di mana angka penjualan tertahan di kisaran 1 hingga 1,2 juta unit per tahun. Namun, yang lebih memprihatinkan, dalam dua tahun belakangan angka tersebut justru melorot hingga di bawah ambang batas satu juta unit.

Ekonomi 6 Persen: Target Penentu Kebangkitan Industri

Harapan besar kini disematkan pada proyeksi ekonomi tahun 2026. Pemerintah Republik Indonesia yang berencana menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga ke level 6% diharapkan menjadi sentimen positif yang mampu mengembalikan gairah pasar otomotif. Menurut Kukuh, angka 6% bukan sekadar target statistik, melainkan syarat krusial agar penjualan bisa kembali terangkat.

Jika pertumbuhan ekonomi nasional masih tertahan di kisaran 5%, maka diprediksi pertumbuhan penjualan otomotif akan tetap sulit dicapai secara signifikan. Meskipun demikian, industri tetap mencari celah peluang di awal tahun. Momen besar seperti perayaan Imlek dan Hari Raya Idul Fitri diproyeksikan akan menjadi pendongkrak musiman bagi penjualan mobil, mengingat tradisi mudik dan konsumsi masyarakat yang biasanya meningkat pada periode tersebut.

Tantangan Daya Saing dan Tekanan Produk Impor

Selain isu melemahnya daya beli, Kukuh Kumara juga menyoroti hambatan struktural yang tengah dihadapi produsen dalam negeri. Salah satu persoalan utama adalah penguatan daya saing produk lokal terhadap serbuan mobil impor. Agar industri dalam negeri tetap kompetitif, diperlukan keselarasan kebijakan yang mendukung efisiensi produksi sehingga produk nasional tidak kalah bersaing dengan kendaraan yang didatangkan dari luar negeri.

Persaingan ini menjadi krusial mengingat preferensi konsumen yang semakin beragam di tengah pilihan model-model impor yang terus membanjiri pasar domestik. Oleh karena itu, penguatan industri komponen dan dukungan kebijakan fiskal menjadi faktor yang tak terpisahkan dalam upaya menjaga stabilitas industri otomotif lokal.

Hambatan Infrastruktur pada Segmen Kendaraan Listrik

Sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) juga tidak luput dari perhatian. Meskipun pemerintah gencar mendorong transisi ke energi hijau, realita di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak mudah. Kukuh menyebutkan bahwa salah satu ganjalan utama bagi pertumbuhan pasar mobil listrik di Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur pendukung.

Hingga saat ini, penyediaan fasilitas charging station atau stasiun pengisian daya masih sangat terkonsentrasi di kota-kota besar, terutama Jakarta. Ketimpangan fasilitas ini membuat masyarakat di daerah penyangga atau luar Pulau Jawa masih ragu untuk beralih ke kendaraan listrik. Kurangnya infrastruktur di luar wilayah perkotaan besar menghambat laju adopsi massal yang sebenarnya sangat diperlukan untuk mencapai target pengurangan emisi karbon.

Simpulan: Sinergi Kebijakan dan Momentum Awal Tahun

Masa depan industri otomotif Indonesia di tahun 2026 sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam mencapai target ekonomi 6%. Dengan daya beli masyarakat sebagai motor penggerak utama, sinergi antara kebijakan moneter (terkait suku bunga) dan kebijakan fiskal akan menentukan apakah industri ini mampu bangkit atau tetap terjebak dalam pusaran stagnasi.

Dukungan infrastruktur untuk kendaraan masa depan serta perlindungan terhadap industri dalam negeri menjadi agenda mendesak yang harus segera diselesaikan agar pilar ekonomi di sektor manufaktur ini bisa kembali kokoh.

Terkini