JAKARTA - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) kembali menghadirkan Program Skrining Demensia Gratis pada 2026.
Program ini menargetkan 20.000 peserta lansia di berbagai wilayah Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan deteksi dini terhadap risiko demensia.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya pada 2024–2025 yang berhasil menjangkau 40.000 peserta secara nasional. Sepanjang 2025, jumlah peserta hampir mencapai 30.000 orang atau lebih dari 140% dari target awal 20.000 peserta. Hasil ini menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan otak.
Direktur Business & Marketing Prodia, Indriyanti Rafi Sukmawati, menyampaikan bahwa partisipasi tinggi menandakan meningkatnya kesadaran masyarakat. Khususnya kelompok usia lanjut mulai memahami pentingnya deteksi dini. Hal ini diyakini dapat membantu menjaga kualitas hidup di masa lansia.
Mekanisme Skrining dan Prosedur Pemeriksaan
Program skrining ini ditujukan bagi masyarakat berusia 50 tahun ke atas. Pemeriksaan dilakukan di cabang Klinik Prodia dengan prosedur bertahap. Diawali dengan Kuesioner AD-8 INA, kemudian dilanjutkan tes MOCA-INA oleh dokter Prodia untuk peserta dengan skor tertentu.
Peserta yang terindikasi mengalami penurunan fungsi kognitif akan diarahkan ke pemeriksaan lanjutan. Konsultasi dilakukan dengan dokter spesialis saraf atau internis geriatri di Prodia Senior Health Centre. Klinik ini tersedia di Jakarta, Surabaya, dan Makassar untuk memastikan akses mudah bagi peserta.
Melalui prosedur ini, peserta mendapatkan pemetaan risiko secara akurat. Layanan lanjutan memungkinkan pencegahan dan perawatan dini. Pendekatan ini memastikan setiap peserta memperoleh perhatian yang sesuai kebutuhan medisnya.
Manfaat Deteksi Dini bagi Kesehatan Otak
Data Alzheimer’s Disease International menunjukkan sekitar 55 juta orang di dunia hidup dengan demensia. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada 2050. Di Indonesia, pengidap demensia diperkirakan lebih dari 1,2 juta orang, menunjukkan pentingnya intervensi dini.
AVP Business Prodia, Indri Marya Wulandari, menekankan program ini tidak hanya menyediakan pemeriksaan. Edukasi dan rujukan lanjutan sesuai kebutuhan peserta juga menjadi fokus utama. Langkah ini membantu masyarakat lebih memahami risiko dan cara menjaga kesehatan otak.
Dengan adanya deteksi dini, peserta dapat mengambil tindakan preventif. Informasi kesehatan yang didapatkan memungkinkan pengelolaan risiko lebih efektif. Hal ini juga mengurangi kemungkinan perkembangan penyakit menjadi lebih parah.
Integrasi Program dengan ESG dan SDGs
Program skrining ini sejalan dengan pilar Environmental, Social, and Governance (ESG) Prodia, khususnya aspek sosial. Melalui penyediaan layanan kesehatan inklusif, program mendukung kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3 tentang kesehatan yang baik.
Inisiatif ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Program tidak hanya menekankan pemeriksaan, tetapi juga peningkatan kualitas hidup lansia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Prodia untuk memberikan dampak sosial positif.
Selain itu, kegiatan ini memperkuat citra perusahaan sebagai pelopor layanan kesehatan preventif. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan otak meningkat melalui edukasi dan konsultasi. Program ini menekankan pentingnya tindakan pencegahan sejak dini.
Harapan dan Target Partisipasi Program
Prodia menargetkan 20.000 peserta skrining demensia di 2026. Target ini mencerminkan keinginan perusahaan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat lansia. Partisipasi aktif diharapkan dapat menurunkan risiko demensia secara signifikan.
Melalui perluasan inisiatif, PRDA ingin masyarakat proaktif menjaga kesehatan otak. Peserta diharapkan mengikuti pemeriksaan secara rutin dan menjalankan rekomendasi dokter. Hal ini mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup sehat pada lansia.
Indriyanti menambahkan, kesadaran dan edukasi menjadi kunci keberhasilan program. Peserta yang mengetahui risiko lebih awal dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat. Hal ini juga membantu keluarga memahami cara mendukung lansia yang berisiko demensia.
Peran Edukasi dan Konsultasi Lanjutan
Program ini tidak berhenti pada skrining awal saja. Edukasi dan konsultasi lanjutan menjadi komponen penting. Peserta mendapatkan informasi mengenai gaya hidup sehat dan pencegahan penurunan fungsi kognitif.
Kegiatan ini mencakup arahan diet, olahraga, dan stimulasi mental. Pendekatan ini membantu lansia tetap aktif secara fisik dan mental. Layanan konsultasi juga memastikan peserta memahami hasil skrining dan langkah lanjutan.
Prodia berharap melalui pendekatan holistik ini, kualitas hidup lansia meningkat. Edukasi, skrining, dan rujukan lanjutan saling melengkapi untuk hasil optimal. Program ini menjadi model pencegahan penyakit kognitif yang bisa diadopsi secara luas.
Dengan strategi ini, PRDA memastikan setiap peserta mendapat layanan yang komprehensif. Deteksi dini, edukasi, dan tindakan preventif menjadi fokus utama. Program diharapkan memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat lansia di seluruh Indonesia.