Arsenal

Ironi Liga Champions: Arsenal Juara Fase Liga, City-Liverpool Lebih Kaya

Ironi Liga Champions: Arsenal Juara Fase Liga, City-Liverpool Lebih Kaya
Ironi Liga Champions: Arsenal Juara Fase Liga, City-Liverpool Lebih Kaya

JAKARTA - Dominasi di atas lapangan hijau ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan ketebalan dompet di kompetisi kasta tertinggi Eropa. Fenomena unik ini tengah dialami oleh Arsenal. Meski menyapu bersih fase liga dengan rekor sempurna, klub asal London Utara tersebut justru kalah telak dalam urusan pendapatan dibandingkan dua rival domestiknya, Manchester City dan Liverpool.

Berdasarkan analisis keuangan terbaru yang dipublikasikan pada Senin 2 Februari 2026, terungkap bahwa sistem pembagian hadiah UEFA masih sangat dipengaruhi oleh faktor historis klub. Hal ini menciptakan situasi di mana performa impresif Arsenal musim ini belum mampu melampaui "warisan" poin koefisien yang dimiliki oleh City dan Liverpool.

Rekam Jejak Historis Jadi Penentu Pundi-Pundi Uang

Secara teknis, Arsenal tampil impresif di fase liga dengan delapan kemenangan dari delapan pertandingan dan melaju ke babak 16 besar sebagai salah satu unggulan. Di sisi lain, Liverpool finis di posisi ketiga, sementara City berada di urutan kedelapan, batas terakhir untuk lolos otomatis. Jika hanya melihat papan skor, Arsenal seharusnya menjadi raja finansial di Inggris.

Namun, capaian di lapangan tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan pemasukan finansial. Catatan historis di kompetisi Eropa turut memainkan peran penting dalam pembagian pendapatan. UEFA menerapkan sistem yang menghargai konsistensi sebuah klub dalam jangka panjang, bukan hanya ledakan performa dalam satu musim saja.

Menurut data yang dipublikasikan blog keuangan sepak bola Swiss Ramble, Manchester City dan Liverpool sama-sama telah mengantongi pendapatan sebesar 84 juta pounds dari Liga Champions musim ini. Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dibanding Arsenal yang berada di angka 83,1 juta pounds. Perbedaan ini muncul meski Arsenal tampil lebih dominan secara hasil pertandingan. City dan Liverpool memperoleh tambahan pendapatan berkat rekam jejak Eropa yang lebih kuat dalam kurun 10 tahun terakhir dibanding klub asal London tersebut.

Bedah Komponen Pendapatan: Performa vs Pilar Nilai UEFA

Untuk memahami mengapa Arsenal bisa tertinggal, kita harus melihat struktur pembagian dana UEFA. Setiap dari 36 klub peserta fase liga menerima biaya awal sebesar 16,1 juta pounds. Setelah itu, pendapatan ditambah berdasarkan performa, termasuk hasil pertandingan, posisi klasemen, dan kelolosan ke babak 16 besar yang bernilai 9,5 juta pounds.

Dalam komponen pendapatan berbasis performa, Arsenal berada di posisi teratas dengan pemasukan 35,1 juta pounds. Liverpool menyusul dengan 31 juta pounds, sementara City memperoleh 28,5 juta pounds. Namun, keunggulan Arsenal di lapangan ini langsung "disunat" oleh komponen yang disebut sebagai ‘pilar nilai’. Bagian ini menyumbang 35 persen dari total dana yang dibagikan UEFA kepada seluruh peserta.

Pilar nilai dihitung berdasarkan nilai pasar media suatu negara serta performa klub di kompetisi Eropa dalam lima dan 10 tahun terakhir. Di sinilah Arsenal tersandung. Karena absen cukup lama dari Liga Champions dalam satu dekade terakhir, koefisien mereka kalah jauh. Dalam perhitungan Swiss Ramble, City menjadi klub Inggris dengan pemasukan tertinggi di kategori ini sebesar 39 juta pounds, disusul Liverpool dengan 37,2 juta pounds, dan Arsenal dengan 32 juta pounds.

Peta Pemasukan Klub Inggris dan Penguasa Eropa

Ketimpangan ini tidak hanya dirasakan oleh Arsenal. Klub Inggris lain juga tercatat meraih pendapatan signifikan dengan angka yang bervariasi tergantung sejarah mereka di Eropa. Chelsea sejauh ini mengumpulkan total 79,6 juta pounds, sementara Tottenham berada di angka 72,7 juta pounds.

Kontras terlihat pada Newcastle United. Pendapatan Newcastle lebih rendah, yakni 46,7 juta pounds, yang dipengaruhi peringkat koefisien mereka serta status harus melalui fase play-off untuk mencapai babak 16 besar. Sementara itu, di level kontinental, raksasa Jerman masih menjadi yang terdepan dalam urusan mengeruk keuntungan. Secara keseluruhan, klub dengan pendapatan tertinggi sejauh ini adalah Bayern Munchen dengan total 86,6 juta pounds.

Potensi Cuan Besar di Fase Gugur

Meskipun saat ini sedikit tertinggal, Arsenal masih memiliki peluang besar untuk membalikkan keadaan di akhir musim. Semakin jauh mereka melangkah di babak 16 besar hingga final, maka akumulasi bonus performa akan semakin membengkak dan berpotensi mengejar ketertinggalan dari aspek "pilar nilai".

Masih tersedia hadiah besar, dengan total 49,8 juta pounds bagi klub yang menjuarai Liga Champions dan kemudian menjuarai Piala Super UEFA pada Agustus, sementara finalis dan semifinalis akan menerima jumlah yang lebih kecil. Perang finansial ini akan terus berjalan beriringan dengan pertempuran taktik di lapangan hijau hingga partai puncak nanti.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index