Korea

Baht dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Hari Ini

Baht dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Hari Ini
Baht dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Hari Ini

JAKARTA - Pasar valuta asing di kawasan Asia menunjukkan daya tahan yang menarik pada pembukaan perdagangan awal Februari ini. Di saat mayoritas mata uang regional bergerak dalam rentang yang sempit, dua mata uang utama dari Asia Tenggara dan Asia Timur berhasil mencatatkan performa yang menonjol. Sentimen positif yang mengalir dari bursa saham global, khususnya penguatan sektor teknologi di Amerika Serikat, menjadi bahan bakar utama bagi pemulihan selera risiko investor di pasar negara berkembang. Fenomena ini menciptakan gelombang penguatan tipis yang memberikan ruang napas bagi nilai tukar regional terhadap dolar AS.

Baht Thailand dan won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS pada Selasa (3/2/2026), di tengah pergerakan yang relatif terbatas pada mayoritas mata uang regional. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang masih cenderung waspada namun tetap mencari peluang di tengah stabilitas global yang mulai terbentuk.

Dinamika Penguatan Baht dan Won di Pasar Spot

Pergerakan nilai tukar pada pagi hari ini menunjukkan apresiasi yang cukup konsisten pada beberapa mata uang tertentu. Pada pukul 02.04 GMT, baht Thailand menguat 0,25% ke level 31,46 per dolar AS, sementara won Korea naik 0,17% ke 1.449,1 per dolar AS.

Penguatan keduanya terjadi seiring membaiknya sentimen risiko global setelah reli saham teknologi di Amerika Serikat. Pemulihan di sektor ekuitas ini biasanya menjadi indikator bagi investor untuk kembali masuk ke aset-aset yang lebih berisiko di pasar Asia, yang pada gilirannya mendorong permintaan terhadap mata uang lokal di kawasan tersebut.

Performa Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya yang Fluktuatif

Sementara baht dan won memimpin di barisan depan, mata uang Asia lainnya mencatat pergerakan yang lebih sempit atau cenderung mendatar. Yen Jepang menguat tipis 0,10% ke 155,45 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,11% ke 1,27. Rupiah Indonesia juga menguat 0,15% ke level 16.760 per dolar AS, menunjukkan tren pemulihan moderat sejalan dengan rekan regionalnya.

Di sisi lain, tidak semua mata uang mampu memanfaatkan momentum ini. Ringgit Malaysia melemah 0,15% ke 3,945 per dolar AS, sedangkan dolar Taiwan relatif stabil di 31,596. Yuan China tercatat menguat tipis 0,06% ke 6,94 per dolar AS. Pergerakan yang beragam ini mengindikasikan bahwa faktor domestik masing-masing negara masih memegang peranan penting di samping pengaruh sentimen eksternal.

Kinerja Sepanjang 2026: Ringgit Malaysia Masih Memimpin

Jika melihat gambaran yang lebih luas sejak awal tahun, terdapat pergeseran posisi yang signifikan dalam peta kekuatan mata uang Asia. Secara year-to-date, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia sepanjang 2026, naik sekitar 2,81% dibandingkan akhir 2025. Dolar Singapura juga menguat 1,19%, disusul yen Jepang yang naik 0,77%.

Kontras dengan capaian tersebut, beberapa mata uang justru harus berjuang melawan tren pelemahan sejak awal tahun. Sebaliknya, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam tahun ini, turun 1,79%, diikuti won Korea yang melemah 0,66% dan rupiah Indonesia yang terkoreksi 0,54% dibandingkan posisi akhir 2025. Penurunan ini mencerminkan tantangan makroekonomi yang masih dihadapi oleh beberapa ekonomi besar di kawasan Asia.

Proyeksi Pasar: Investor Menanti Sinyal Kebijakan Bank Sentral

Meskipun terjadi penguatan pada beberapa mata uang hari ini, pelaku pasar memperkirakan bahwa reli ini mungkin tidak akan berlangsung secara agresif dalam waktu dekat. Pelaku pasar menilai pergerakan mata uang Asia masih akan cenderung terbatas, dengan investor menunggu arah kebijakan moneter bank sentral utama serta perkembangan geopolitik dan perdagangan global.

Ketidakpastian mengenai kapan bank sentral utama akan mulai menyesuaikan suku bunga mereka tetap menjadi faktor penahan utama. Selama indikator ekonomi global belum menunjukkan arah yang benar-benar stabil, investor kemungkinan besar akan tetap bermain aman, yang mengakibatkan volatilitas mata uang Asia tetap terjaga dalam koridor yang moderat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index