Bank Indonesia

Transformasi Ekonomi Kaltara: Kredit Investasi Melambung di Tengah Dinamika Likuiditas

Transformasi Ekonomi Kaltara: Kredit Investasi Melambung di Tengah Dinamika Likuiditas
Transformasi Ekonomi Kaltara: Kredit Investasi Melambung di Tengah Dinamika Likuiditas

JAKARTA - Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) tengah menunjukkan taji sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, wajah perekonomian di provinsi termuda di Kalimantan ini mengalami pergeseran paradigma yang menarik. Di saat penghimpunan dana masyarakat mengalami penyesuaian, mesin pertumbuhan melalui fungsi intermediasi perbankan justru menderu kencang, menandakan adanya gelombang besar aktivitas ekonomi riil di lapangan.

Fenomena ini terekam jelas dalam catatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, di mana penyaluran pembiayaan melaju pesat melampaui rata-rata pertumbuhan periode sebelumnya. Penguatan fungsi intermediasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Kaltara bukan lagi sekadar wilayah potensial, melainkan destinasi aktif bagi ekspansi usaha berskala besar yang membutuhkan dukungan finansial jangka panjang.

Rekor Baru Pertumbuhan Kredit Investasi di Kaltara

Akselerasi ekonomi di Kalimantan Utara paling terlihat dari bagaimana perbankan mengalirkan dananya ke sektor-sektor strategis. Berdasarkan data terbaru, total kredit perbankan di wilayah ini tercatat tumbuh sebesar 68,24 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan gairah yang luar biasa dalam penyerapan modal oleh para pelaku usaha di Bumi Benuanta.

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah lonjakan pada kategori pembiayaan investasi. Tidak tanggung-tanggung, penyaluran kredit investasi di Kaltara meroket hingga 162,05 persen. Lonjakan yang mencapai tiga digit ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekspansi usaha dan realisasi proyek berskala menengah hingga panjang. Hal ini menandakan bahwa para investor dan pemilik usaha memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menanamkan modalnya di Kaltara demi keuntungan masa depan.

Sektor Industri dan Pertambangan Jadi Pemicu Utama

Kenaikan drastis pada pos investasi tidak terjadi secara hampa. Ada sektor-sektor unggulan yang menjadi motor penggerak utama di balik angka-angka tersebut. Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan bahwa lonjakan kredit investasi menjadi indikator menguatnya aktivitas ekonomi daerah, khususnya pada sektor industri pengolahan dan pertambangan.

Aktivitas pada kedua sektor ini memang dikenal padat modal dan memiliki efek domino yang luas bagi lapangan kerja dan pendapatan daerah. “Pertumbuhan kredit investasi menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi produktif yang berdampak jangka panjang terhadap perekonomian daerah,” ujar Hasiando. Struktur pertumbuhan yang didominasi oleh aset produktif ini dinilai sangat sehat dan sejalan dengan arah pembangunan ekonomi Kalimantan Utara yang bertumpu pada penguatan sektor unggulan serta penciptaan nilai tambah.

Menjaga Kualitas Kredit di Tengah Ekspansi Masif

Meski penyaluran kredit melaju dengan kecepatan tinggi, aspek keamanan dan kesehatan perbankan tetap menjadi prioritas utama. Ekspansi kredit yang masif di Kaltara dilaporkan tetap berada dalam koridor yang aman. Hal ini terbukti dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang tercatat di level 2,14 persen. Angka ini masih berada jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan regulator, yakni sebesar 5 persen.

Stabilitas risiko ini berlaku merata di seluruh segmen. NPL pada seluruh jenis kredit, baik modal kerja, investasi, maupun konsumsi, terpantau terkendali dan relatif stabil. Hasiando menegaskan bahwa pertumbuhan ini dibarengi dengan manajemen risiko yang mumpuni dari pihak perbankan. “Perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Sehingga pertumbuhan kredit tetap sehat,” tambahnya.

Kontradiksi Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga

Di balik gemilangnya pertumbuhan penyaluran kredit, sisi penghimpunan dana atau Dana Pihak Ketiga (DPK) justru menunjukkan tren yang berbeda. Sepanjang tahun 2025, DPK perbankan di Kaltara mengalami kontraksi sebesar 3,76 persen. Penurunan ini memberikan gambaran mengenai dinamika likuiditas yang sedang terjadi di masyarakat dan pelaku usaha setempat.

Kontraksi atau penurunan simpanan ini terutama terjadi pada instrumen giro dan deposito. Bank Indonesia menilai bahwa fenomena ini terjadi seiring dengan adanya perubahan preferensi masyarakat dalam mengelola aset mereka, serta pengaruh dari dinamika likuiditas global maupun domestik. Meski simpanan mengalami penurunan, pesatnya pertumbuhan kredit membuktikan bahwa perbankan masih memiliki daya dukung yang kuat untuk membiayai proyek-proyek strategis di Kaltara.

Optimisme Masa Depan Ekonomi Kalimantan Utara

Kombinasi antara kredit investasi yang tumbuh 162 persen dan NPL yang terjaga rendah memberikan alasan kuat bagi Kaltara untuk tetap optimis. Selain kredit investasi, segmen lain seperti kredit modal kerja dan kredit konsumsi juga tetap menunjukkan tren pertumbuhan, meskipun berada pada laju yang lebih moderat dibandingkan segmen investasi.

Ke depannya, pertumbuhan ekonomi Kaltara diharapkan tidak hanya bergantung pada ekstraksi sumber daya alam, tetapi juga pada industri pengolahan yang telah mulai menunjukkan taringnya melalui penyerapan kredit investasi tersebut. Dengan manajemen ekonomi yang inklusif dan pengawasan perbankan yang ketat, Kalimantan Utara berada di jalur yang tepat untuk menjadi pusat pertumbuhan baru di gerbang utara Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index