Danantara

Fokus Hilirisasi Nasional, Danantara Siapkan Enam Proyek Mulai Februari 2026

Fokus Hilirisasi Nasional, Danantara Siapkan Enam Proyek Mulai Februari 2026
Fokus Hilirisasi Nasional, Danantara Siapkan Enam Proyek Mulai Februari 2026

JAKARTA - Langkah percepatan hilirisasi kembali diperlihatkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. 

Perusahaan ini memastikan enam proyek hilirisasi akan segera memasuki tahap awal pengerjaan. Proyek-proyek tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada awal Februari 2026.

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa enam proyek tersebut menjadi pembuka dari rangkaian agenda besar hilirisasi nasional. 

Keenamnya merupakan bagian dari total 18 proyek yang telah dikaji secara menyeluruh. Tahap awal ini menandai komitmen Danantara dalam mendorong nilai tambah industri dalam negeri.

Rosan menegaskan bahwa proses persiapan proyek sudah melalui tahapan penting. Sejumlah proyek bahkan telah mencapai tahap financial closing. Hal ini menjadi dasar kuat bagi Danantara untuk memulai pembangunan fisik di lapangan.

Tahap Awal Hilirisasi Masuk Fase Groundbreaking

Enam proyek hilirisasi dijadwalkan memulai groundbreaking pada 6 Februari 2026. Rosan menyebut momentum ini sebagai awal penting dari perjalanan panjang hilirisasi. Proyek-proyek tersebut telah melalui proses kajian dari sisi teknis dan pendanaan.

Dalam rapat kerja bersama DPR, Rosan menjelaskan bahwa proyek yang siap dimulai merupakan prioritas. Salah satunya adalah proyek hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat. Lokasi Mempawah disebut sebagai salah satu titik utama pengembangan.

Menurut Rosan, nilai investasi proyek bauksit cukup besar. Smelter alumina yang dikembangkan memiliki nilai investasi sekitar USD 3 miliar. Proyek tersebut sudah mencapai tahap financial closing dan siap direalisasikan.

Beragam Sektor Masuk Daftar Proyek Prioritas

Selain bauksit, Danantara juga menyiapkan proyek hilirisasi di sektor lain. Rosan mengungkapkan bahwa aluminium menjadi salah satu fokus utama. Proyek aluminium direncanakan berlokasi di Balikpapan.

Sektor energi terbarukan dan bahan bakar alternatif juga masuk dalam daftar. Salah satunya adalah pengembangan bioavtur. Selain itu, proyek kilang pemurnian atau refinery turut dipersiapkan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Tak hanya sektor industri berat, Danantara juga melirik sektor pangan. Hilirisasi unggas direncanakan dibangun di lima lokasi berbeda. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok dan menciptakan nilai tambah bagi sektor peternakan.

Gasifikasi Batu Bara Jadi Bagian Agenda Hilirisasi

Danantara juga menyiapkan proyek gasifikasi batu bara. Proyek ini mengubah batu bara menjadi Dimethyl Ether atau DME. DME diproyeksikan sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas atau LPG.

Rosan menyampaikan bahwa proyek DME dijadwalkan mulai pada Februari. Teknologi yang akan digunakan masih dalam tahap kajian mendalam. Proses analisis dilakukan oleh Chief Technology Officer Danantara.

Ia menekankan pentingnya pemilihan teknologi yang tepat. Teknologi tersebut harus efisien dan sesuai dengan kondisi di Indonesia. Hasil kajian akan menjadi dasar keputusan sebelum proyek berjalan penuh.

Hilirisasi Kelapa Dorong Serapan Tenaga Kerja

Selain sektor mineral dan energi, hilirisasi kelapa menjadi perhatian serius. Program ini dinilai memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Meski nilai investasinya lebih kecil, kontribusinya terhadap ekonomi lokal cukup signifikan.

Rosan menargetkan proyek hilirisasi kelapa rampung pada Desember 2026. Nilai investasi sektor ini mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,67 triliun. Saat ini, proses konstruksi tengah berjalan untuk mendukung program tersebut.

Ia menjelaskan bahwa investasi di sektor kelapa mampu menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan beberapa proyek mineral. Hilirisasi perkebunan dinilai menjadi penyeimbang pembangunan industri nasional.

Hilirisasi Jadi Strategi Jangka Panjang Nasional

Rosan menyampaikan bahwa tren investasi hilirisasi terus meningkat sejak 2025. Tidak hanya sektor mineral, sektor perkebunan dan kehutanan mulai menunjukkan pergerakan positif. Danantara melihat peluang besar dalam diversifikasi proyek hilirisasi.

Menurutnya, hilirisasi bukan sekadar soal nilai investasi. Dampak ekonomi dan sosial menjadi pertimbangan utama. Penyerapan tenaga kerja dan penguatan industri domestik menjadi tujuan jangka panjang.

Dengan dimulainya enam proyek pada Februari 2026, Danantara optimistis agenda hilirisasi akan berjalan sesuai rencana. Proyek-proyek ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pembangunan industri nasional. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan terus bersinergi demi keberlanjutan program tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index