JAKARTA - Transformasi digital perbankan menuntut kesiapan teknologi yang semakin tinggi.
Kecepatan layanan harus berjalan beriringan dengan sistem keamanan yang andal. Perbankan nasional pun dituntut terus berinvestasi demi menjaga kepercayaan nasabah.
BCA Perkuat Sistem IT dan Keamanan Siber dengan Capex Jumbo menjadi cerminan strategi jangka panjang perusahaan. Penguatan teknologi dilakukan untuk menjawab tantangan digital yang kian kompleks. Fokus utama diarahkan pada stabilitas sistem dan perlindungan data.
Langkah ini dinilai penting mengingat aktivitas perbankan semakin bergeser ke kanal digital. Volume transaksi yang tinggi membutuhkan sistem yang tangguh. Dengan fondasi IT yang kuat, kualitas layanan dapat terus ditingkatkan.
Strategi Investasi Teknologi Jangka Panjang
PT Bank Central Asia Tbk secara konsisten memperkuat kapabilitas teknologi informasi sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Penguatan tersebut dilakukan untuk menghadapi tantangan digital yang terus berkembang. Tujuannya adalah memberikan layanan perbankan yang cepat, aman, dan berkualitas.
BCA secara rutin mengalokasikan belanja modal dalam jumlah besar setiap tahunnya. Alokasi capex tersebut difokuskan untuk memperkuat infrastruktur IT. Namun, manajemen belum merinci angka pasti capex tahun ini.
Sebagai gambaran, pada tahun 2024 BCA mengalokasikan capex sekitar Rp 8 triliun. Pada tahun 2025, alokasi tersebut ditingkatkan sebesar 8 persen. Kenaikan ini menunjukkan komitmen berkelanjutan terhadap penguatan teknologi.
Porsi Capex dan Fokus Keamanan Siber
“Tahun ini, alokasi capex BCA cukup besar, yang pasti triliunan. Sekitar 30 persen capex digunakan untuk penguatan IT,” kata SPV IT Security BCA Ferdinan Marlim.
Ia menegaskan bahwa investasi teknologi, termasuk keamanan siber, membutuhkan biaya besar. Menurutnya, penguatan sistem tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah.
Ferdinan menyampaikan bahwa BCA sangat fokus pada sistem keamanan siber. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa 99 persen transaksi BCA telah dilakukan secara digital. Kondisi tersebut menuntut sistem keamanan berlapis.
Dengan transaksi digital yang dominan, potensi ancaman siber semakin tinggi. Perbankan harus menutup setiap celah yang bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan. Oleh karena itu, pemeliharaan sistem menjadi prioritas utama.
Ancaman Siber dan Upaya Pencegahan
BCA menyadari bahwa perkembangan digitalisasi selalu diiringi peningkatan kejahatan siber. Ferdinan mengatakan bahwa pada tahun 2025 serangan yang paling banyak diterima adalah DDoS. Serangan ini dinilai sangat mengganggu stabilitas layanan.
Serangan DDoS merupakan upaya melumpuhkan server atau jaringan dengan membanjiri lalu lintas palsu. Serangan dilakukan dari banyak sumber secara bersamaan. Dampaknya dapat mengganggu akses layanan nasabah.
“Tahun lalu, serangan DDoS mencapai rekor. Itu sebabnya, sistem IT perlu dimaintenance dengan baik,” ujar Ferdinan. Pemeliharaan sistem dilakukan secara berkelanjutan. Langkah ini bertujuan memastikan layanan tetap tersedia.
Pendekatan Proses, People, dan Teknologi
Ferdinan mengatakan bahwa BCA melakukan pencegahan kejahatan perbankan melalui tiga aspek utama. Ketiga aspek tersebut adalah proses, people, dan teknologi. Pendekatan ini dinilai saling melengkapi.
Aspek people dianggap sebagai titik terlemah yang perlu mendapat perhatian khusus. Kesadaran dan kedisiplinan manusia sangat menentukan keamanan sistem. Oleh karena itu, edukasi internal terus dilakukan.
Proses yang kuat dan teknologi yang andal harus ditopang sumber daya manusia yang siap. Tanpa kesadaran manusia, sistem secanggih apa pun dapat ditembus. Sinergi ketiganya menjadi kunci keamanan.
Edukasi Nasabah dan Peran Bersama
Senior Vice President Wholesale Transaction Banking Product Development BCA Martinus Robert Winata mengatakan edukasi kepada nasabah terus digencarkan. Edukasi ini mencakup nasabah ritel hingga bisnis. Tujuannya mencegah kejahatan siber seperti phishing dan social engineering.
Ia menjelaskan sejumlah langkah yang dapat dilakukan nasabah. Langkah tersebut antara lain menggunakan kata sandi yang kuat. Nasabah juga diminta tidak membagikan data pribadi sembarangan.
Selain itu, nasabah diimbau berhati-hati saat menggunakan jaringan WiFi publik. Kewaspadaan di ruang digital menjadi hal mutlak. Kesalahan kecil dapat berdampak besar pada keamanan data.
Kewaspadaan Digital dan Perlindungan Data
Nasabah juga diminta tidak mudah tergoda mengklik tautan mencurigakan. Lampiran yang tidak jelas sumbernya sebaiknya dihindari. Langkah ini penting untuk mencegah pencurian data.
Pastikan alamat situs yang diakses aman dan tepercaya. Hindari mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi. Pembaruan perangkat lunak secara berkala juga dianjurkan.
Langkah-langkah tersebut membantu menjaga gawai tetap tangguh. Perlindungan data pribadi menjadi tanggung jawab bersama. Kesadaran ini menjadi lapisan keamanan tambahan.
Kolaborasi Bank dan Nasabah
Robert menambahkan bahwa keamanan siber bukan hanya tanggung jawab bank. Partisipasi aktif nasabah memegang peran penting. Keamanan digital harus dijaga bersama.
“Saat ada aktivitas mencurigakan yang tercium, segera laporkan melalui kanal resmi BCA,” kata Robert. Tindakan cepat dinilai dapat mencegah kerugian lebih besar. Respons dini menjadi kunci mitigasi risiko.
Dengan kolaborasi yang baik, potensi kejahatan dapat ditekan. Bank dan nasabah saling melengkapi dalam menjaga keamanan. Kepercayaan menjadi fondasi utama layanan perbankan.
Komitmen Berkelanjutan di Era Digital
Investasi besar di bidang IT menunjukkan komitmen BCA menghadapi era digital. Keamanan dan kenyamanan nasabah menjadi prioritas utama. Langkah ini sejalan dengan transformasi layanan perbankan.
Penguatan sistem dilakukan secara berkelanjutan dan terukur. Tantangan siber akan terus berkembang seiring teknologi. Kesiapan sistem menjadi kunci keberlanjutan layanan.
Dengan fondasi IT yang kuat, BCA berharap mampu menjaga kepercayaan nasabah. Layanan yang aman dan andal menjadi tujuan utama. Strategi ini diharapkan mendukung pertumbuhan jangka panjang.