Bank Indonesia

Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen untuk Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen untuk Stabilitas Ekonomi
Bank Indonesia Diprediksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen untuk Stabilitas Ekonomi

JAKARTA - Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen di pertemuan RDG Februari 2026. 

Prediksi ini muncul di tengah tekanan eksternal yang meningkat dan volatilitas pasar global yang memengaruhi rupiah. Para ekonom menilai bank sentral lebih fokus menjaga stabilitas daripada mendorong pertumbuhan melalui pemangkasan suku bunga.

Ruang pelonggaran moneter dinilai masih terbatas karena risiko global yang belum mereda. Tekanan pasar domestik tidak hanya berasal dari kondisi internasional, tetapi juga sentimen terkait revisi prospek utang dan risiko pasar modal. Dengan demikian, BI akan berhati-hati dalam mengambil keputusan kebijakan jangka pendek.

Keputusan untuk menahan suku bunga juga mempertimbangkan pentingnya menjaga kepercayaan investor. Penurunan suku bunga secara prematur dapat meningkatkan risiko inflasi dan mengganggu stabilitas rupiah. Sebaliknya, mempertahankan tingkat suku bunga membantu menjaga ekspektasi pasar tetap terkendali.

Faktor Tekanan Pasar dan Nilai Tukar

Pasar domestik menghadapi tekanan akibat risiko global dan sentimen negatif dari lembaga pemeringkat. Hal ini dapat meningkatkan premi risiko dan volatilitas arus modal ke dalam negeri. Rupiah menjadi lebih sensitif terhadap berita eksternal sehingga stabilitasnya menjadi prioritas utama.

Sentimen negatif ini menuntut kehati-hatian dalam pengambilan keputusan moneter. Bank Indonesia diperkirakan akan lebih mengutamakan langkah-langkah stabilisasi daripada dorongan ekspansi moneter. Langkah ini penting untuk mencegah fluktuasi yang tajam pada nilai tukar dan pasar keuangan.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah turut memengaruhi harga komoditas dan biaya impor. Investor asing cenderung menunda keputusan besar hingga situasi lebih jelas. Dengan kondisi ini, langkah menahan suku bunga dianggap tepat untuk menjaga keseimbangan ekonomi.

Pertimbangan Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Inflasi yang masih berada di atas 3 persen menjadi salah satu pertimbangan utama. BI menilai bahwa penurunan suku bunga saat ini belum ideal karena risiko tekanan harga yang meningkat. Dengan menahan suku bunga, bank sentral berharap dapat menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan.

Selain itu, ruang untuk menurunkan suku bunga diperkirakan baru terbuka setelah tekanan eksternal mereda. Tekanan inflasi menjelang Idul Fitri juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Dengan demikian, kebijakan saat ini lebih menekankan pada kontrol inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Meski suku bunga ditahan, BI masih memiliki instrumen lain untuk mendorong likuiditas. Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran bisa dimanfaatkan untuk menopang aktivitas ekonomi. Strategi ini memungkinkan bank sentral menjaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.

Peran Kebijakan Non-Suku Bunga

BI tetap dapat mendukung pertumbuhan melalui kebijakan di luar suku bunga acuan. Pelonggaran makroprudensial, seperti relaksasi rasio cadangan dan fasilitas likuiditas, bisa meningkatkan akses modal bagi perbankan dan pelaku usaha. Dengan cara ini, aktivitas ekonomi tetap bisa didorong meski suku bunga tidak turun.

Selain itu, inovasi sistem pembayaran digital dan fasilitas interbank menjadi alat untuk memperlancar transaksi ekonomi. Langkah ini membantu menjaga efisiensi dan stabilitas keuangan. Pelaku usaha dan perbankan dapat memanfaatkan kebijakan ini untuk menyeimbangkan likuiditas dan permintaan pasar.

Kebijakan non-suku bunga juga membantu menghadapi potensi kenaikan tekanan inflasi. Fasilitas likuiditas dan mekanisme pasar dapat mencegah lonjakan harga yang tajam. Dengan demikian, bank sentral tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Proyeksi Pasar dan Strategi Investor

Prediksi BI menahan suku bunga mendorong pelaku pasar untuk lebih waspada. Investor menunggu sinyal dari data ekonomi dan risalah pertemuan untuk menentukan strategi trading. Fluktuasi rupiah yang moderat masih mungkin terjadi sepanjang periode ini.

Investor cenderung melakukan lindung nilai atau strategi hedging untuk mengurangi risiko volatilitas. Perusahaan dan eksportir bisa memanfaatkan forward contract agar arus kas tetap stabil. Dengan strategi yang tepat, dampak dari suku bunga yang ditahan dapat dikelola secara efektif.

Selain itu, masyarakat dan pelaku usaha disarankan memantau pergerakan rupiah harian. Informasi yang akurat akan membantu pengambilan keputusan bisnis. Kesadaran terhadap dinamika pasar dan strategi manajemen risiko menjadi kunci menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Keputusan BI menahan suku bunga di 4,75 persen pada RDG Februari 2026 menegaskan prioritas stabilitas. Tekanan eksternal dan volatilitas pasar global menjadi pertimbangan utama. Investor, pelaku usaha, dan masyarakat perlu strategi cermat untuk menghadapi kondisi ekonomi yang dinamis.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index