Ulasan Film Surat untuk Masa Mudaku: Menyusuri Luka Liminal dan Perjalanan Pulang Emosi Manusia

Senin, 02 Februari 2026 | 08:42:44 WIB
Ulasan Film Surat untuk Masa Mudaku: Menyusuri Luka Liminal dan Perjalanan Pulang Emosi Manusia

JAKARTA - Ada masa dalam hidup ketika seseorang tidak sepenuhnya mampu menoleh ke belakang, tetapi juga belum siap melangkah ke depan.

Film “Surat untuk Masa Mudaku” menjadikan fase rapuh itu sebagai poros utama cerita, menghadirkan kisah tentang manusia-manusia yang hidup di ruang ambang, tempat luka lama dan tanggung jawab baru saling berkelindan.

Film ini bukan sekadar drama keluarga atau nostalgia masa lalu. Ia adalah refleksi sunyi tentang bagaimana memori, trauma, dan kejujuran membentuk seseorang dalam menghadapi realitas hidupnya hari ini. Melalui tokoh Kefas, penonton diajak menyelami perjalanan batin yang pelan, getir, namun sarat makna.

Kefas Dewasa dan Retakan Emosi yang Tersembunyi

Cerita dibuka dari kehidupan Kefas dewasa, yang diperankan oleh Fendy Chow. Ia digambarkan sebagai seorang ayah dan kepala keluarga yang tampak berfungsi normal di mata sosial. Namun, di balik rutinitas itu, kegelisahan terus berdenyut tanpa suara.

Momen ulang tahun putrinya, Abigail (Sadiya Aisye), yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, justru menjadi titik awal keretakan emosional Kefas. Ia mengalami gangguan kecemasan yang misterius, kehilangan kendali di hadapan para tamu. Sang istri, Rania (Agla Artalidia), hanya mampu memendam kejengkelan yang akhirnya berujung pada keputusannya meninggalkan Kefas sendirian di rumah.

Kefas berada di antara dua dunia yang saling bertentangan. Di satu sisi, tuntutan peran sebagai ayah di masa kini. Di sisi lain, bayang-bayang masa remaja di panti asuhan, tempat ia pernah menjadi figur pelindung bagi adik-adiknya. Ketidakmampuan berdamai dengan fase transisi ini membuatnya terjebak dalam kecemasan yang terus menghantui kesehariannya.

Kembali ke Panti Asuhan dan Retakan Narasi Transisi

Panggilan telepon mendadak membawa Kefas kembali ke Panti Asuhan Pelita Kasih, tempat yang menyimpan fragmen penting hidupnya. Kepulangannya menjadi pintu masuk menuju masa lalu yang selama ini ia hindari.

Namun, secara naratif, transisi menuju perjalanan ini terasa agak lemah. Dorongan cerita hanya bertumpu pada kabar duka yang datang tiba-tiba, tanpa persiapan emosional yang cukup matang. Pergolakan batin Kefas seolah muncul sebagai reaksi atas peristiwa eksternal, bukan hasil akumulasi konflik internal yang dibangun sejak awal.

Meski demikian, begitu Kefas menginjakkan kaki di panti, atmosfer berubah drastis. Lorong-lorong sunyi dan bangunan tua menjadi medium visual yang efektif untuk membangkitkan ingatan serta emosi terpendam.

Memori Kefas Muda dan Dinamika Kehidupan Panti

Kefas muda diperankan dengan kuat oleh Millo Taslim. Ia digambarkan sebagai remaja keras, penuh kecurigaan, dan emosional. Watak ini lahir dari trauma kehilangan adiknya di masa lalu, yang meninggalkan luka mendalam dalam dirinya.

Di panti, Kefas tidak sendiri. Ada Sabrina (Aqila Faherby) yang tampil lebih dewasa, Joy (Cleo Haura) dengan karakter tomboi, serta Boni (Halim Latuconsina), anak bungsu berambut ikal yang kerap dirapikan Kefas setiap hari. Kehadiran Romi (Jordan Omar) dan Desi (Diandra Salsabila Lubis) turut memperkaya dinamika kehidupan anak-anak panti.

Meski latar cerita sarat luka, suasana panti tetap terasa hangat. Kehangatan ini tumbuh dari pola asuh Simon Ferdinan (Agus Wibowo) dan Wahyu (Willem Bevers). Simon, sahabat Wahyu sekaligus pengasuh panti, menjadi figur ayah yang penuh empati dan integritas moral.

Kejujuran sebagai Kompas Moral Kehidupan

Nilai kejujuran menjadi fondasi karakter Simon. Konflik memuncak ketika Kefas muda menuduh Simon menggelapkan beras panti setelah melihatnya memindahkan stok secara diam-diam. Kecurigaan itu berpuncak pada kemarahan, hingga kebenaran terungkap saat sarapan pagi.

Kefas menyadari bahwa nasi yang ia makan kini bersih dari bangkai kutu yang biasanya ada. Simon diam-diam mengganti beras rusak tanpa mencari pengakuan. Momen ini menjadi pelajaran moral yang kuat dan membekas dalam diri Kefas.

Fase limbo ternyata tidak hanya dialami Kefas. Simon sendiri kerap terdiam mengenang istri dan anaknya, terjebak antara kehangatan masa lalu dan kesunyian masa kini. Hal serupa juga dialami Yahya (Landung Simatupang), tetangga panti yang galak karena kesepian, serta Gabriel (Verdi Solaiman), pemilik rumah duka yang menghadapi dilema moral dalam pekerjaannya.

Palet Warna dan Penyembuhan dalam Ruang Ambang

Secara visual, sutradara Sim F menggunakan palet warna sebagai bahasa emosional. Adegan masa lalu dibalut warna hangat yang penuh nostalgia, sementara masa kini didominasi warna kebiruan yang dingin dan gelisah. Warna tersebut mencerminkan kondisi mental Kefas yang terjebak di fase limbo.

Ketika kilas balik berakhir dan Kefas dewasa bertemu kembali dengan teman-teman pantinya yang kini telah tumbuh, warna dingin itu perlahan menghilang. Sabrina dewasa (Ruth Marini), Joy dewasa (Rania Putri Sari), Boni dewasa (Marthino Lio), Romi dewasa (Chicco Kurniawan), dan Desi dewasa (Widika Darsih Sidmore) menjadi bukti bahwa masa lalu dapat diselesaikan.

Film “Surat untuk Masa Mudaku” menegaskan bahwa kejujuran dan ketulusan dapat menjadi kompas untuk keluar dari ruang ambang kehidupan. Meski setiap tokoh membawa luka masing-masing, nilai moral itulah yang menuntun mereka untuk terus melangkah menuju hari esok dengan lebih jujur pada diri sendiri.

Terkini