Panduan Aman Puasa Ramadan bagi Pasien Parkinson Menurut Dokter Ahli Saraf

Rabu, 11 Februari 2026 | 12:30:07 WIB
Panduan Aman Puasa Ramadan bagi Pasien Parkinson Menurut Dokter Ahli Saraf

JAKARTA - Menjalankan ibadah puasa Ramadan merupakan kerinduan bagi setiap umat Muslim, tidak terkecuali bagi mereka yang sedang berjuang melawan kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit Parkinson. Meskipun puasa adalah kewajiban agama, aspek keselamatan medis tetap menjadi prioritas utama, terutama karena karakteristik penyakit Parkinson yang sangat bergantung pada kestabilan kadar obat dalam tubuh.

Dokter spesialis saraf dari RS EMC Alam Sutera dan Sentul, Gloria Tanjung, memberikan perhatian khusus bagi para pengidap Parkinson yang berencana menjalankan ibadah puasa. Menurutnya, keputusan untuk berpuasa tidak bisa diambil secara sepihak tanpa pertimbangan medis yang matang, mengingat adanya risiko perburukan gejala yang bisa terjadi akibat perubahan jadwal konsumsi obat.

Risiko Fluktuasi Motorik Akibat Perubahan Jadwal Obat

Salah satu tantangan terbesar bagi pengidap Parkinson saat berpuasa adalah manajemen waktu minum obat. Penyakit ini terjadi karena penurunan dopamin di otak, sehingga pasien sangat bergantung pada obat-obatan seperti levodopa. Masalahnya, levodopa memiliki durasi kerja yang sangat singkat, hanya sekitar 3 hingga 4 jam, sehingga biasanya perlu dikonsumsi lebih dari tiga kali sehari.

Gloria Tanjung memperingatkan bahwa penghentian obat secara mendadak atau perubahan jadwal yang drastis saat puasa bisa berakibat fatal. “Pasien yang rutin konsumsi obat lebih dari tiga kali akan mengalami fluktuasi motorik (kaku, tremor, sulit bergerak yang bertambah) karena hanya mengkonsumsi obat saat sahur dan berbuka,” jelas Gloria mengutip laman resmi EMC pada Rabu.

Kondisi ini bisa menyebabkan pasien mengalami kekakuan otot yang parah hingga tidak mampu bergerak sama sekali. Di sisi lain, memaksakan dosis tinggi dalam satu waktu saat berbuka puasa juga bukan solusi. Hal tersebut justru berisiko memicu diskinesia, yaitu gerakan-gerakan tubuh abnormal yang tidak terkendali akibat lonjakan dopamin yang mendadak tinggi di dalam otak.

Klasifikasi Derajat Keparahan dan Kelayakan Berpuasa

Catatan penting kedua dari dr. Gloria adalah bahwa setiap pengidap Parkinson memiliki profil kesehatan yang unik. Oleh karena itu, diperlukan penilaian medis secara komprehensif untuk menentukan apakah seorang pasien cukup aman untuk berpuasa atau tidak. Secara umum, kelayakan puasa dibagi berdasarkan derajat keparahan penyakit yang diderita pasien.

Pasien dengan Parkinson derajat ringan biasanya masih diperbolehkan berpuasa dengan catatan menggunakan obat-obatan yang memiliki durasi kerja panjang (long-acting). Sementara itu, pasien dengan derajat sedang mungkin tetap bisa berpuasa, namun memerlukan modifikasi regimen obat yang sangat ketat di bawah pengawasan dokter.

Kondisi berbeda berlaku bagi pasien Parkinson derajat berat. Kelompok ini memiliki risiko kesehatan yang sangat tinggi jika memaksakan diri untuk berpuasa. Ibadah puasa bagi pengidap derajat berat umumnya hanya memungkinkan jika pasien sudah menjalani kombinasi dengan advanced therapy atau terapi tingkat lanjut yang memadai.

Pentingnya Modifikasi Dosis Sebelum Memasuki Bulan Ramadan

Bagi pasien yang dinilai mampu secara medis untuk menjalankan puasa, persiapan harus dilakukan jauh-jauh hari. Evaluasi terhadap jenis dan dosis obat-obatan sangat diperlukan untuk menyesuaikan dengan ritme tubuh saat berpuasa. Idealnya, modifikasi ini dilakukan sebelum memasuki bulan suci agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan regimen baru tersebut.

Gloria menekankan bahwa puasa bagi pengidap Parkinson adalah sebuah tantangan yang memerlukan pengawasan ekstra. “Melakukan ibadah puasa Ramadan merupakan suatu tantangan bagi pasien Parkinson. Bukanlah tidak mungkin pasien Parkinson untuk berpuasa, namun kita perlu memastikan kondisi pasien optimal dan aman saat berpuasa. Konsultasikan ke dokter spesialis saraf bagi pasien Parkinson yang ingin berpuasa,” sarannya.

Memahami Karakteristik Penyakit Parkinson dan Peran Dopamin

Sebagai informasi tambahan, Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif kedua paling umum di dunia. Kondisi ini menyerang sekitar 2 dari 100 orang yang telah berusia di atas 60 tahun, meski tidak menutup kemungkinan bisa menyerang mereka yang berusia lebih muda. Gejala utamanya meliputi gerakan tubuh yang melambat, kaku, tremor, serta gangguan keseimbangan yang sangat memengaruhi kualitas hidup harian.

Inti dari penyakit ini adalah berkurangnya zat kimia penting di otak yang bernama dopamin. Itulah sebabnya penggunaan obat yang mengandung levodopa menjadi kunci utama dalam mengontrol gejala, karena levodopa bekerja sebagai prekursor atau bahan baku pembentuk dopamin di otak. Mengingat durasi kerjanya yang pendek, pengaturan jadwal konsumsi obat menjadi faktor penentu apakah seorang pasien Parkinson bisa menjalani hari-harinya—dan ibadah puasanya—dengan stabil dan aman.

Terkini