Infeksi Paru-Paru

Kenali 4 Penyakit Infeksi Paru-Paru yang Bisa Mengancam Kesehatan Tubuh

Kenali 4 Penyakit Infeksi Paru-Paru yang Bisa Mengancam Kesehatan Tubuh
Kenali 4 Penyakit Infeksi Paru-Paru yang Bisa Mengancam Kesehatan Tubuh

JAKARTA - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap empat penyakit infeksi paru-paru berat. 

Menurutnya, pemantauan dini dapat membantu menekan risiko kematian akibat penyakit ini. Langkah pencegahan dan kesiapan layanan kesehatan menjadi kunci utama bagi masyarakat dan tenaga medis.

Empat penyakit infeksi paru-paru yang mesti diwaspadai meliputi Avian Influenza atau flu burung, Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), Super Flu, dan penyakit akibat infeksi virus Nipah.

Angka kematian akibat flu burung pada beberapa negara di wilayah WHO Western Pacific Office (WPRO) cukup tinggi, menimbulkan perhatian serius. Indonesia termasuk negara dengan angka kematian flu burung yang tinggi dibandingkan negara lain di kawasan tersebut.

Virus influenza penyebab flu burung yang beredar meliputi H3N8, H7N4, H7N9, H9N2, H10N3, dan H10N5. Kasus terakhir dilaporkan di Kamboja pada tahun sebelumnya, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Prof. Tjandra menekankan bahwa kesiapsiagaan nasional harus menyertakan pemantauan virus ini secara intensif.

Flu Burung dan Tingginya Angka Kematian

Prof. Tjandra menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir angka kematian akibat flu burung di negara-negara WPRO mencapai 66,3 persen. Di Indonesia, angka kematian tercatat lebih tinggi, mencapai 84 persen. Fakta ini menunjukkan perlunya strategi pencegahan yang lebih efektif di tingkat lokal dan nasional.

Flu burung dapat menular melalui kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi, sehingga masyarakat harus berhati-hati saat berinteraksi dengan hewan tersebut. Surveilans aktif dan edukasi masyarakat menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran virus. 

Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko infeksi dan kematian dapat ditekan secara signifikan.

Langkah-langkah kesiapsiagaan harus mencakup deteksi dini, pelaporan cepat, dan koordinasi antar instansi kesehatan. Prof. Tjandra menekankan bahwa setiap kejadian kasus flu burung harus ditangani secara cepat. Hal ini penting agar dampak luas dapat diminimalisir.

MERS CoV dan Ancaman Global

Penyakit infeksi paru-paru kedua yang perlu diwaspadai adalah MERS CoV. Prof. Tjandra menyampaikan bahwa munculnya kasus MERS CoV di negara tertentu perlu menjadi perhatian global. Terutama bagi jamaah umrah dan kegiatan musim haji, kesiapsiagaan sangat penting untuk mencegah penularan.

Sebanyak 17 kasus MERS CoV dilaporkan di Arab Saudi dalam satu tahun terakhir. Prof. Tjandra menekankan perlunya monitoring bagi para jamaah yang melakukan perjalanan ke kawasan tersebut. Pencegahan dini dan edukasi kesehatan menjadi langkah penting agar infeksi tidak meluas ke Indonesia.

Kewaspadaan masyarakat terhadap MERS CoV termasuk menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi membawa virus, dan segera melaporkan gejala gangguan pernapasan. 

Penanganan cepat sangat penting untuk menekan risiko komplikasi berat. Prof. Tjandra menegaskan bahwa sistem surveilans kesehatan harus selalu siap siaga.

Super Flu dan Peningkatan Kasus Global

Penyakit infeksi paru-paru ketiga yang menjadi perhatian adalah Super Flu, akibat infeksi virus influenza A H3N2 subclade K. Pemerintah Kota Tokyo mengeluarkan peringatan influenza untuk pertama kalinya dalam 17 tahun akibat peningkatan penularan virus ini. Peningkatan kasus juga dilaporkan di Korea, Jepang, dan Amerika Serikat pada awal tahun ini.

“Pada kenyataannya, ada juga kasus di negara kita karena Influenza B ini,” jelas Prof. Tjandra. Kewaspadaan dan pemantauan lokal menjadi langkah penting untuk mencegah wabah lebih luas. Layanan kesehatan diharapkan siap menangani lonjakan kasus yang terjadi secara mendadak.

Super Flu menunjukkan betapa cepatnya virus influenza dapat menyebar lintas negara. Prof. Tjandra menekankan bahwa masyarakat harus mengikuti protokol kesehatan dan vaksinasi jika tersedia. Langkah ini akan mengurangi risiko komplikasi serius pada kelompok rentan.

Virus Nipah dan Risiko Paru-paru Berat

Penyakit infeksi paru-paru keempat yang perlu diwaspadai adalah infeksi virus Nipah. Virus ini bisa menular ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Infeksi Nipah dapat menyebabkan pneumonia atipikal yang berkembang menjadi penyakit paru berat dan acute respiratory distress.

Prof. Tjandra menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap hewan yang berpotensi membawa virus Nipah. Aktivitas surveilans virus di tingkat komunitas menjadi langkah utama untuk mencegah penularan. Deteksi dini akan membantu penanganan lebih cepat bagi pasien yang terinfeksi.

Masyarakat juga harus diedukasi mengenai cara mengurangi risiko infeksi. Prof. Tjandra menyarankan agar setiap kejadian gangguan pernapasan dicatat dan ditindaklanjuti secara cepat. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan publik dan mencegah wabah lebih luas di Indonesia.

Strategi Pencegahan dan Penanganan Efektif

Prof. Tjandra menekankan perlunya peningkatan kegiatan surveilans virus infeksi paru dan saluran napas. Dengan pemantauan yang intensif, situasi dapat dikenali dan ditangani dengan baik. Strategi ini mencakup deteksi dini, edukasi masyarakat, dan kesiapan layanan kesehatan untuk merespons wabah.

Langkah-langkah ini penting agar masyarakat dan tenaga medis siap menghadapi ancaman empat penyakit infeksi paru-paru. Pencegahan, deteksi, dan penanganan cepat menjadi kunci untuk menekan risiko komplikasi dan kematian. 

Empat penyakit infeksi paru-paru yang mesti diwaspadai harus menjadi fokus nasional agar kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index