JAKARTA - Kepergian tokoh bangsa selalu meninggalkan duka mendalam bagi institusi dan masyarakat.
Dedikasi panjang dalam pengabdian negara menjadi warisan berharga yang dikenang lintas generasi. Nilai keteladanan menjadi pengingat akan pentingnya integritas dan loyalitas.
Lemhannas sampaikan belasungkawa meninggalnya Agus Widjojo sebagai bentuk penghormatan atas jasa almarhum. Pengabdian beliau tercatat dalam perjalanan panjang ketatanegaraan dan diplomasi Indonesia. Sosoknya dikenal luas sebagai pemimpin, pemikir, dan negarawan.
Kepergian tersebut dirasakan sebagai kehilangan besar bagi bangsa. Jejak pemikiran dan pengabdian terus dikenang. Keteladanan almarhum menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Pernyataan Duka dari Lemhannas
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Ace Hasan Syadzily menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Duta Besar RI untuk Filipina Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Agus Widjojo. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana penuh khidmat. Lemhannas mengenang almarhum sebagai tokoh penting bangsa.
“Saya atas nama Gubernur Lemhannas Republik Indonesia dan keluarga besar Lemhannas Republik Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Agus Widjojo,” kata Ace. Ungkapan duka tersebut mewakili perasaan seluruh jajaran Lemhannas. Penghormatan diberikan atas jasa dan pengabdian almarhum.
Ace menyampaikan pernyataan tersebut dalam upacara Pembukaan Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional. Suasana acara berlangsung dengan penuh rasa kehilangan. Peserta turut merasakan duka mendalam.
Riwayat Wafat dan Kiprah Lemhannas
Ace mengatakan Agus Widjojo, mantan Gubernur Lemhannas RI periode 2016 hingga 2022, meninggal dunia pada usia 78 tahun. Almarhum menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan mendalam.
“Beliau merupakan Gubernur Lemhannas Republik Indonesia ke-16 periode 2016-2022. Dikenal luas sebagai intelektual militer dan tokoh reformasi TNI,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan peran strategis almarhum. Kiprahnya di Lemhannas menjadi bagian penting sejarah lembaga.
Selama memimpin Lemhannas, Agus Widjojo dikenal konsisten mendorong pemikiran kebangsaan. Pendekatan intelektual menjadi ciri kepemimpinannya. Nilai reformasi menjadi fondasi pengabdiannya.
Ajakan Penghormatan dan Doa Bersama
Selain menyampaikan duka cita, Ace juga mengajak seluruh peserta P3N memberikan penghormatan terakhir. Doa bersama dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan. Suasana berlangsung penuh khidmat.
Ajakan tersebut diikuti seluruh jajaran yang hadir. Penghormatan dilakukan dengan sikap hormat dan tertib. Momen tersebut menjadi refleksi pengabdian almarhum.
Doa bersama menjadi simbol kebersamaan dalam duka. Lemhannas menegaskan nilai persatuan dalam menghormati jasa tokoh bangsa. Penghormatan tersebut menjadi bagian tradisi kelembagaan.
Prosesi Persemayaman Jenazah
Sebagai informasi, jenazah Agus Widjojo disemayamkan di tempat kehormatan. Lokasi persemayaman berada di Ruang Bendera Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri RI. Peti jenazah diselimuti Bendera Merah Putih.
Prosesi persemayaman berlangsung dengan penuh kehormatan. Kehadiran simbol negara mencerminkan jasa almarhum. Penghormatan dilakukan sesuai tata cara kenegaraan.
Agus wafat dalam usia 78 tahun setelah menjalani perawatan. Perawatan dilakukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Lokasi rumah sakit berada dekat kompleks Kementerian Luar Negeri RI.
Penghormatan dari Kementerian Luar Negeri
Dalam persemayaman, Menteri Luar Negeri RI Sugiono memimpin penghormatan terakhir. Ia menyampaikan pernyataan duka di hadapan keluarga dan tamu. Prosesi berlangsung dengan suasana haru.
Sugiono mengatakan Agus Widjojo wafat saat menjalankan tugas sebagai Duta Besar RI di Filipina. Hal tersebut menegaskan dedikasi almarhum hingga akhir hayat. Pengabdian diplomatik dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Sugiono menegaskan bahwa keluarga besar Lemhannas dan Kementerian Luar Negeri merasakan kehilangan besar. Kepergian almarhum dirasakan lintas institusi. Sosok Agus Widjojo dinilai memiliki kontribusi strategis.
Pengabdian Diplomatik hingga Akhir Hayat
“Kita kehilangan sosok yang begitu teguh dan gigih dalam mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara, termasuk sebagai duta besar,” kata Sugiono. Pernyataan tersebut menggambarkan karakter almarhum. Dedikasi dan keteguhan menjadi ciri pengabdiannya.
Sugiono menyampaikan bahwa Agus Widjojo menjalankan tugas diplomatik dengan baik. Hubungan bilateral Indonesia dan Filipina terus terjaga. Peran tersebut dijalankan hingga akhir hayat.
Pengabdian sebagai duta besar menjadi penutup perjalanan panjang kariernya. Almarhum dikenal konsisten membawa nilai kebangsaan. Diplomasi dijalankan dengan pendekatan dialog dan integritas.
Prosesi Akhir dan Tata Cara Militer
Mengakhiri acara penghormatan, Menlu RI menghampiri keluarga almarhum. Ia menyampaikan belasungkawa secara langsung. Penghormatan diberikan di hadapan peti jenazah.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tata cara militer. Upacara dilakukan sesuai tradisi penghormatan bagi perwira tinggi. Suasana berlangsung khidmat dan tertib.
Prosesi tersebut menandai penghormatan terakhir negara. Dedikasi almarhum diakui secara institusional. Nilai pengabdian menjadi warisan yang dikenang.
Warisan Keteladanan bagi Bangsa
Kepergian Agus Widjojo meninggalkan warisan pemikiran dan pengabdian. Keteladanan beliau menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Nilai integritas dan pengabdian menjadi pesan utama.
Lemhannas mengenang almarhum sebagai pemimpin visioner. Pemikiran kebangsaan menjadi kontribusi penting. Warisan tersebut terus hidup dalam institusi.
Penghormatan ini menjadi pengingat akan jasa tokoh bangsa. Dedikasi tanpa pamrih menjadi teladan. Bangsa mengenang dengan penuh hormat.